Jam buka kunjunganTutup
Rabu, Februari 25, 2026
Piazza della Rotonda, 00186 Roma, Italia

Kuil untuk semua dewa

Dari Roma kekaisaran hingga pemakaman Renaisans — Pantheon menyaksikan 2.000 tahun sejarah.

Baca: 8 menit
13 bab

Dari kuil Agrippa ke visi Hadrianus

Ancient Rome

Pantheon pertama dibangun oleh Marcus Agrippa sekitar 27 SM sebagai kuil untuk semua dewa Roma. Bangunan itu terbakar pada 80 M dan lagi rusak setelah sambaran petir pada 110 M.

Kaisar Hadrianus membangunnya kembali sepenuhnya antara 118–128 M, menciptakan rotonda dan kubah yang kita lihat hari ini. Menariknya, ia tetap mempertahankan nama Agrippa pada pedimen sebagai penghormatan terhadap asal‑usul tempat, sambil menawarkan visi baru yang radikal.

Desain revolusioner Hadrianus

Renaissance Art

Pantheon ditata sebagai bola sempurna: tinggi dari lantai ke oculus sama dengan diameter rotonda — 43,3 meter. Geometri ini menciptakan harmoni kosmik, titik temu bumi dan langit.

Kolom Corinthian raksasa membingkai portiko, sementara dinding rotonda setebal hingga 6 meter menopang berat kubah. Lengkungan tersembunyi dan beton bergradasi menyebarkan tegangan ke seluruh struktur.

Oculus: langit dan jiwa

Pantheon Oculus

Oculus 9 meter di pusat kubah adalah satu‑satunya sumber cahaya alami. Sinar matahari bergerak melintasi interior sepanjang hari, mencipta permainan dinamis antara cahaya, bayangan dan ruang.

Hujan jatuh melalui bukaan ke lantai marmer kuno, yang sedikit miring menuju saluran tersembunyi. Oculus melambangkan mata ilahi, menghubungkan peziarah langsung dengan langit.

Beton Romawi dan kejeniusaan teknik

Pantheon Lights

Para pembangun Romawi menggunakan beton inovatif: agregat lebih ringan di bagian atas, batu lebih berat di dasar. Lima cincin kaset kubah mengurangi bobot sambil mempertahankan kekuatan — solusi yang bertahan hampir dua milenium.

Tanpa baja, tanpa penopang modern — hanya abu vulkanik, kapur dan rancangan brilian. Pantheon tetap menjadi kubah beton tanpa tulangan terbesar yang pernah dibangun.

Dari kuil pagan ke gereja Kristen

Pantheon Maintenance

Pada 609 M, Kaisar Bizantium Phocas memberikan Pantheon kepada Paus Bonifasius IV, yang menyucikannya sebagai gereja Santa Maria ad Martyres. Transformasi ini menyelamatkan bangunan dari penjarahan dan kehancuran yang menimpa kuil Romawi lain.

Penggunaan Kristen berarti perawatan berkelanjutan, perbaikan dan adaptasi — penambahan altar, pembuangan patung, pemasangan makam. Pantheon menjadi monumen sekaligus tempat ibadah yang hidup.

Pemakaman Renaisans dan makam kerajaan

Pantheon Graves

Pada 1520, pelukis besar Renaisans Raphael dimakamkan di sini — kehormatan langka yang mencerminkan kejeniusan dan statusnya. Makam sederhananya dengan epitaf Latin menarik pengunjung dari seluruh dunia.

Setelah penyatuan Italia, Pantheon menjadi tempat peristirahatan bagi raja‑raja Italia: Vittorio Emanuele II, Umberto I dan Ratu Margherita.

Langit‑langit perunggu dan perubahan kepausan

Pantheon Ceiling

Pada abad ke‑17, Paus Urban VIII memerintahkan pelepasan perunggu dari portiko untuk mencetak meriam bagi Castel Sant'Angelo dan membuat kanopi di Basilika Santo Petrus. Orang Roma bergurau: ‘Apa yang tidak dilakukan kaum barbar, dilakukan Barberini’.

Meski ada perubahan, struktur dan semangat inti Pantheon tetap utuh. Tiap era meninggalkan jejak — fresco, altar, plakat — tanpa merusak harmoni yang dibangun Hadrianus.

Kunjungan lintas abad

Pantheon World War II

Selama berabad‑abad, peziarah, sarjana dan seniman mengunjungi Pantheon, membuat sketsa kubah, mengukur proporsi dan mengagumi ketahanan bangunan. Arsitek Renaisans mempelajarinya untuk membuka rahasia teknik Romawi.

Pada abad ke‑18 dan ke‑19, ia menjadi persinggahan wajib Grand Tour. Penulis seperti Stendhal dan Goethe menggambarkan rasa kagum saat melangkah masuk — perasaan yang masih bertahan hingga kini.

Pelestarian dan perawatan modern

Pantheon Romanticism

Pelestarian modern berfokus pada pembersihan marmer, menstabilkan struktur dan mengelola arus pengunjung. Pemantauan cermat memastikan kubah beton kuno tetap kokoh meski terkena polusi, pelapukan dan jutaan pengunjung tiap tahun.

Proyek terbaru meningkatkan drainase, merestorasi pintu perunggu dan memperbarui pencahayaan untuk menonjolkan efek oculus sambil melindungi permukaan rapuh.

Pantheon dalam seni dan budaya

Pantheon Movie Scene Angels and Demons

Pantheon menginspirasi arsitek dari Brunelleschi hingga Thomas Jefferson; kubahnya memengaruhi Basilika Santo Petrus, Capitol AS dan banyak bangunan neoklasik di seluruh dunia.

Pelukis, penyair dan pembuat film berkali‑kali kembali pada geometri sempurna dan cahaya yang memukau — simbol keindahan yang abadi.

Piazza della Rotonda hari ini

Pantheon Piazza Rotonda at Sunset

Piazza della Rotonda semarak — kafe di atas batu granit, seniman jalanan, wisatawan berkumpul di sekitar air mancur Giacomo della Porta. Kontras antara alun‑alun yang hidup dan interior yang tenang memperkaya pengalaman.

Meja luar ruang menawarkan posisi terdepan untuk melihat perubahan cahaya di portiko, sementara kedai gelato dan toko suvenir menghadirkan suasana ramah.

Menjelajah lingkungan

Pantheon Trocadero Gardens View of

Beberapa langkah saja, temukan Piazza Navona dengan air mancur karya Bernini, kafe Via della Rotonda, dan gereja Santa Maria sopra Minerva dengan patung Michelangelo.

Untuk pengalaman Roma yang lebih dalam, berjalan ke timur menuju Air Mancur Trevi, ke selatan menuju Campo de' Fiori, atau ke utara menuju butik dan trattoria di kawasan abad pertengahan.

Ikon Roma abadi

Pantheon Sunset View

Pantheon mewujudkan kejeniusaan Roma: teknik yang praktis, kesempurnaan estetika dan kemampuan beradaptasi. Ia bertahan melewati kekaisaran dan perang dan tetap digunakan terus‑menerus hampir 2.000 tahun.

Kini, ia berdiri sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO di Pusat Bersejarah Roma — monumen hidup tempat kebesaran kuno bertemu kehidupan sehari‑hari, menginspirasi setiap orang yang melangkah melalui pintu perunggunya.

Lewati antrean dengan tiket resmi

Temukan pilihan tiket terbaik dengan akses prioritas dan panduan ahli.